Keke menyaksikan hal buruk di benaknya. Irani, Natifa, dan Geris masuk ke dimensi waktu! Ini tidak mungkin! pikir Keke. Dia mencari ke sekeliling taman dan hanya menemukan Oland yang basah kuyup di dekat pohon beringin. Keke mengira Oland baru saja tercebur di kolam, karena kebiasaan Oland kan makan di sisi kolam. Dia benar-benar ceroboh!
“Keke... kata Nenek Ilani, Natipa, cama Gelis dalam bahaya!” seru Danan.
Setiap sore di Taman LLOVER banyak anak-anak bermain. Orang tua juga sering memantau mereka. Jika mencari Irani, Natifa, dan Geris disaat sore seperti ini, Keke harus bersaing dengan anak-anak yang bermain petak umpet. Keke lelah berlari dan segera mendekati Oland yang sudah berdiri jauh dari pohon beringin. Keke menghampirinya dan bertanya soal Irani, Natifa, dan Geris.
Oland tidak bisa menjawab dan semakin gemetaran.
“Hahaha! Aku kok nggak lihat kamu jatuh ke kolam,” ucap Putra pada Oland.
“Dimenci waktu! Benelan Nek?! Maca meleka matuk dimenci waktu!” Danan menjerit-jerit.
“Kamu ngomong apa sih, Danan?” kesal Putra menanggapi. Danan masih terlihat bicara sendiri.
***
Di terowongan, Irani melihat kerlipan warna-warni seperti pecahan pelangi. Ada tangga yang mengarah ke bawah. Namun Geris melihat tangga yang menjulang ke atas. Kedua tangga itu berputar seperti kumparan yang mengecil di ujungnya.
“Kita harus ke mana?” Tangan kecil Natifa menyentuh dinding terowongan yang berkelip.
“Aku ikut kamu saja, Irani.” Geris masih terpana mengamati tangga yang menjulang ke atas.
Irani mengangguk lalu melangkahkan kakiknya turun ke anak tangga yang terbuat dari akar pohon. Geris dan Natifa mengikuti langkah Irani. Di setiap anak tangga ada pintu dengan beragam ukuran dan warna. Irani mencoba menyentuh daun pintunya. Dingin dan rasanya ada setruman kecil yang menjalar ke sekujur tubuhnya. Dia mengabaikannya. Irani terus melangkah ke bawah.
Semakin jauh Irani melangkah, semakin jauh ujung tangganya, bahkan seperti tidak berujung. Geris menyentuh pundak Irani, mengingatkan agar dia segera mencari jalan keluar ke dimensi waktu lain. Caranya hanya dengan memilih salah satu pintu dan membukanya.
Irani paham dan mulai berkonsentrasi menentukan pintu yang akan dia buka. Sebuah pintu berwarna jingga setinggi dua meter menarik perhatian Irani. Bentuknya sangat normal. membuat Irani berharap keadaan di balik pintu itu juga normal. Dia tidak bisa membayangkan jika masuk ke dimensi waktu saat perang dunia atau zaman dinosaurus. Semoga waktunya tidak jauh dari tahun 2016, Irani berharap. Dia mengambil nafas dalam sebelum membukanya.
Pintu itu terbuka, seberkas cahaya jingga dari matahari terbenam menyilaukan mata Irani. Geris memegang tangan Natifa dan Irani, mereka kehilangan keseimbangan hingga tubuh mereka bergerak tak tentu arah. Irani akhirnya melihat dengan jelas dan segera bersembunyi di balik kotak-kotak gabus. Di luar ada tiga orang yang hilir mudik mengangkut penyu hijau.
“Kita ada di atas kapal,” bisik Irani lalu mengintip ke dalam kotak gabus. Di dalam kotak juga ada penyu hijau yang diikat siripnya. Ukurannya besar mencapai satu meter.
“Kasihan penyu-penyu ini. Mereka kan termasuk hewan dilindungi,” bisik Natifa.
“Sepertinya mereka menyelundupkan penyu-penyu ini. Kita harus melepaskannya!”
“Ssttt... Irani jangan gegabah. Kita tunggu sampai situasinya aman,” Geris mengingatkan.
Natifa yang menyentuh kotak gabus mendapat rekaman kejadian selama kotak itu digunakan menyelundupkan penyu. Dia tidak bisa menahan diri melihat penyu yang terluka lehernya dan penyu lain yang mati selama perjalanan. Air matanya mengalir deras. Irani dengan sigap memeluk Natifa, meredam tangisannya. Geris melepaskan tangan Natifa yang menempel di kotak gabus.
Mereka terus bersembunyi sampai matahari tenggelam sempurna. Gelap. Dalam keadaan gelap seperti ini, bagaimana kami mengangkut kotak gabus dan melepaskan penyu hijau ke laut tanpa ketahuan? Lagipula kami hanya anak usia delapan tahun, sedangkan di luar ada tiga orang dewasa bertubuh kekar. Belum lagi kemungkinan mereka memegang senjata, pikir Geris yang membuatnya mulas dan merasakan dingin yang menusuk sampai ke tulang.
Irani sedih melihat Natifa yang terus menangis. Dia juga merasa takut dan menyesali perbuatannya. Bagaimana mereka bisa selamat dari atas kapal? Bagaimana caranya mereka kembali, sedangkan pintu jingga itu sudah menghilang, berganti tumpukan kotak gabus? Irani semakin takut ketika gelap melumpuhkan indera pengelihatannya. Dia telah membawa Natifa dan Geris ke dalam bahaya.
(Bersambung)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar