Sabtu, 14 Mei 2016

Lihatlah taman llover lebih dekat (1)



BAGIAN PERTAMA


Sepulang sekolah, Oland merasa tidak bersemangat. Dia masih ingin bermain dengan teman-temannya, tapi Ibu menyuruhnya pulang cepat untuk menjaga rumah. Ayah belum pulang kerja dan Ibu akan pergi bersama teman-temannya. Dia pun berjalan melewati sebuah taman yang terkenal penuh misteri dan memiliki kekuatan magis, bernama Taman LLover. 

Oland merasa ada yang aneh, sepasang mata seperti sedang mengamatinya. Dia menoleh ke arah kanan dan terlihat ada kucing hitam yang menyeringai ke arahnya. Oland terkejut, dia langsung berlari ke rumah. Kucing itu mengejar Oland sambil mengeong, "Meooonngg!"


Di seberang jalan, Irani kebingungan melihat anak laki-laki gemuk yang berlari dikejar kucing hitam. Namun dia biarkan saja Oland pergi dan melanjutkan jalan-jalan berkeliling komplek. Dia berjalan dengan ceria sambil menyanyikan sebuah lagu, "Pergilah sedih. Pergilah resah. Jauhkanlah aku dari salah prasangka. Pergilah gundah. Jauh kan resah. Lihat segalanya, lebih dekat. Dan ku bisa menilai lebih bijaksana. Mengapa Bintang bersinar, mengapa air mengalir, mengapa dunia berputar. Lihat segalanya lebih dekat, dan kau akan mengerti."

Irani sebenarnya merasa kesepian. Dia baru pindah rumah dan belum punya teman bermain. Irani pun terus berjalan sampai ke sebuah taman yang luas dan dikelilingi parit. Air di paritnya sangat jernih dan untuk melewatinya ada jembatan kayu yang cukup tua dan rapuh.

"Djanan! Djanan!" seru seorang anak laki berkulit putih pucat. Dia melambai ke arah Irani sambil berlari. Saat sampai di hadapan Irani, dia berjongkok mengatur nafas kelelahan. "Djanan pegi ke taman lopel. Di tanah banak antunya!" serunya lagi.

Dahi Irani berkerut mencerna kata-katanya. "Kamu siapa?"

"Aku Danan. Danan... Danan... bukan Djanan."

"Oh Danan. Kita jalan-jalan yuk, Danan!"

Danan langsung mengangguk penuh semangat. Mereka pun berjalan-jalan melewati rumah yang tamannya penuh bunga dan pohon buah-buahan. Di rumah itu juga ada kelinci, burung, dan kolam ikan dengan kura-kura yang sedang berjemur di atas batu. Danan bilang, itu rumah Natifa, teman sekelasnya yang paling pintar. Saat Irani sedang melihat-lihat, Natifa muncul dari balik semak-semak sambil memegang bunglon dan ember kuning di tangan kiri.

"Aaaa... aapa ituu!" seru Danan ketakutan lalu sembunyi di balik bahu Irani.

"Ini bunglon. Aku sedang meneliti kulit bunglon yang bisa berubah warna. Dia melindungi diri dari mangsa dengan cara berkamuflase. Lihat deh bisa jadi warna hijau, kuning, abu-abu cerah, coklat, dan kehitaman," jelas Natifa sambil meletakan bunglon dia atas ember dengan beragam warna.

"Iya yah! Bunglonnya lucu! Hmm Natifa ikut jalan-jalan juga yuk!" ajak Irani.

"Yah, maaf aku masih ingin meneliti bunglon," ucapnya sambil menunjukan bunglon.

Irani dan Danan pun mengerti, mereka melanjutkan berjalan-jalan hingga bertemu anak laki-laki bermata sipit yang baru pulang sekolah. Danan bilang namanya Geris. Di sekolah dia pandai olahraga dan termasuk salah satu anak yang paling dekat dengan guru.

"Hai Geris!" seru Irani.

"Kamu siapa?" tanya Geris.

"Aku Irani, aku baru pindah kesini."

Geris sepertinya tidak peduli dan langsung membalikan badannya.

"Tudah tudah, dia ndak mau main tama kita," keluh Danan.

"Masih ada lagi anak-anak seusia kita?" tanya Irani.

"Ada tih, namana Oland, Putla, ama Keke. Kalau Oland tama Putla lumahna dauh. Keke... dia tih galak banet, aku takut kalau ketemu Keke," jelas Danan, membuat Irani berpikir dan merasa tidak perlu lagi bertemu anak-anak yang lain. Namun Irani masih penasaran dengan Taman LLover.

"Sambil jalan-jalan, kamu mau kan cerita tentang Taman LLover, Danan?"

"Kata ibuku, taman lopel banak antu yang tuka tulik anak-anak. Lumahku kan beladapan ama taman lopel, nah tedak aku ketil dak ada atu olang pun yang belani matuk tanah. Katana olang dewata duda tatut ama nenek tihil yang bita belubah dadi kuting itam," jelas Danan.

"Kucing hitam? Tadi aku lihat anak laki-laki gemuk lagi dikejar-kejar kucing hitam." Irani kembali berpikir, tidak mungkin kan kalau kucing hitam itu nenek sihir.

"Dadi, kamu udah ketemu Oland? Mata dia dikedal kuting itam, katian banet."

"Gimana kalau kita main ke Taman LLover aja!" ajak Irani yang semakin penasaran.

"Dak.... dak! Aku dak idinin main tanah!"

"Kalau gitu, aku main sendiri aja. Orang tuaku kan nggak ngelarang aku main ke sana!" Irani pun berlari kembali menuju Taman LLover. Melewati rumah Geris, Irani melihat Geris sedang bermain basket sendirian. Lalu melewati rumah Natifa, dia masih memegang bunglon dan meletakannya ke dalam ember biru. Irani juga menoleh ke belakang, terlihat Danan yang kelelahan mengejarnya.

Irani tak percaya mitos apa pun. Dia hanya ingin melihat Taman LLover lebih dekat. Memastikan apakah ada nenek sihir atau tidak di sana.

(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

author
Hana Sisworini
Aku penulis cerita di Taman LLOVER dan doll maker. Bisa menghubungiku melalui email tamanllover@gmail.com Selamat berpetualang dan berbelanja di Taman LLOVER!