Minggu, 22 Mei 2016

Lihatlah taman llover lebih dekat (2)



BAGIAN KEDUA


Irani terus berlari sampai ke Taman LLover, dia sempat ragu dan menghentikan langkahnya ketika akan menyebrangi jembatan. Jantungnya berdetak cepat dan rasanya dia mulai takut. Tidak! Aku tidak boleh takut! pikir Irani sambil menggelengkan kepalanya cepat. Dia mulai melangkahkan kakinya di atas jembatan, lalu terdengar kayu yang berderit. Kaki Irani bergetar. Irani melangkah lagi, namun kayu yang dia pijak ternyata sudah rapuh dan kayu itu patah.

Irani terperosok jatuh ke sungai. "Tolooooonnngg!!" teriaknya.



"Meoooong!" suara kucing hitam di samping Irani. Kucing itu meloncat dari satu batu ke batu lainnya sambil bermain air dan menangkap ikan-ikan kecil. Tawa Irani meledak saat tahu sungai itu tidak dalam. Ini aneh, pikirnya. Sungai ini terlihat dalam, tapi ternyata hanya setinggi lututnya. 

Di lain tempat, Danan kelelahan sampai tersungkur di tanah. Dia tidak sanggup lagi mengejar Irani. Fisiknya memang lemah, setiap kali pelajaran olahraga pun Danan sering pingsan. Hari ini sudah dua kali dia berlari, dahinya bercucuran keringat, kakinya lemas dan tak bisa menopang tubuhnya lagi, jantungnya berdebar-debar dan nafasnya terengah-engah. Danan juga merasa pusing.

"Kamu ngapain?" seru suara yang keras. Danan tak perlu melihat siapa orang yang berdiri di depannya. Dia pasti Keke, si anak galak. "Bangun! Jangan tiduran di sini!" serunya lagi.

"Sudah, biarkan saja!" seru anak lainnya. Kali ini Danan menoleh ke belakang, ada Geris yang membawa bola basket. "Dia tadi ngikutin anak perempuan yang lari ke Taman LLover," jelas Geris.

Danan kebingungan, bagaimana Geris bisa tahu tentang Irani yang lari ke Taman LLover? Perlahan Danan bangun, namun dia masih merasa pusing dan badannya kehilangan keseimbangan, melihat itu Geris langsung merangkul bahu Danan. "Kamu mau ke sana juga?" tanyanya.

"Aku... aku tatut, capi Ilani..." gugup Danan menjawab.

"Dia baik-baik aja, aku juga penasaran sama Taman LLover," ucap Keke.

"Aku juga penasaran. Aku akan ikut kalian," balas Geris.

Mereka pun bersama-sama pergi ke Taman LLover. Lalu saat mereka melewati rumah Natifa, Geris mengajaknya juga. Natifa sempat menolak dan beralasan masih meneliti bunglon, tapi melihat teman-temannya akan pergi ke sana, Natifa jadi tertarik dan melepaskan bunglonnya di atas semak. Natifa juga penasaran, ingin melihat sebanyak apa hewan dan tumbuhan di sana.

***

"Matahari terbenam, hari mulai malam, terdengar burung hantu suaranya merdu. Kukuk kukuk kukuk kukuk kukuk kukuk kukuk kukuk kukuk,"  Irani bernyanyi sambil berjalan-jalan di sekitaran taman ditemani kucing hitam. Tidak ada yang aneh dengan taman ini, seperti taman biasanya dengan pohon rindang, semak belukar, bebatuan, dan ada danau kecil di sisi kanannya. 

"Irani! Irani!" Ada suara yang memanggil-manggil Irani. Irani segera menghampiri sumber suara. Dilihatnya, Danan, Natifa, Geris, dan anak perempuan berkepang dua. 

"Hai! Kalian akhirnya datang kesini juga!" 

"Ku.... kuting itam!" Danan bersembunyi di balik badan Geris.

Irani membungkuk dan menggendong kucing hitam. "Ini kucing biasa."

"Oya, kenalin aku Keke!" kata anak perempuan bersuara lantang.

"Aku Irani dan aku baru pindah ke sini," balasnya sambil bersalaman.

"Ini sudah mau malam, bagaimana kalau besok kita kesini lagi?"

Geris, Danan, Natifa dan Keke terlihat sibuk memperhatikan sekitar, mereka tidak menjawab pertanyaan Irani. Natifa pun melangkahkan kakinya ke arah pohon paling besar dengan guratan batang pohon berbentuk tetesan air. Dia memberanikan diri menyentuhnya. Natifa menangkap gelombang dari batang pohon, seperti sebuah rekaman film. Natifa memejamkan matanya dan menonton rekaman itu di dalam kepalanya. Dia melihat seorang nenek yang kesepian.

Geris tersenyum melihat Natifa. "Sebentar lagi kita akan berpetualang! Akhirnya ada permainan yang seru! Aku sudah bosan bermain basket sendiri. Pokoknya besok kita akan ajak anak-anak lain main ke sini! Mereka pasti senang! Hahaha aku jadi tidak sabar!" 

Irani terkejut mendengar Geris yang banyak bicara, tidak seperti saat pertama mereka bertemu. Lalu tadi dia juga mengatakan 'berpetualang', apa maksudnya berpetualang di Taman LLover? Sepertinya tidak banyak yang bisa dilakukan di taman ini, selain menangkap ikan di sungai dan memanjat pohon. Selain itu, apa yang dilakukan Natifa? Apa dia sedang meneliti pohon? 

"Orang tua kita sudah mulai khawatir, sebaiknya kita pulang ke rumah!" seru Keke mengingatkan. Irani dan Geris setuju, namun Natifa tidak juga bergerak dari pohon dan Danan terlihat semakin pucat. Matanya melotot ke arah Natifa. Mulutnya terkatup rapat.

"Kamu kenapa, Danan?!" panik Keke menepuk-nepuk pipi Danan.

Danan pun lemas dan matanya tertutup. Danan pingsan.

(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

author
Hana Sisworini
Aku penulis cerita di Taman LLOVER dan doll maker. Bisa menghubungiku melalui email tamanllover@gmail.com Selamat berpetualang dan berbelanja di Taman LLOVER!