Oland masih bersembunyi di dalam selimut, dia ketakutan jika mengingat kucing hitam yang baru saja mengejarnya. Matanya dipejamkan dengan sangat rapat, alisnya berkerut, dan otot-otot tubuhnya menegang. Namun tiba-tiba dia merasakan ada yang aneh, seperti mendengar suara-suara yang tidak jelas, otak kanannya seakan dirasuki pesan dari luar. Oland pun mencoba berkonsentrasi. Tubuh dan pikirannya semakin rileks.
"Tolong! Kami di Taman LLover dan Danan pingsan!" seru suara di dalam kepalanya.
"Kalian siapa? Kenapa kalian di sana?" jawab Oland penasaran.
"Aku Keke, di sini ada Danan, Geris, Natifa, dan anak baru! Cepet kesini!"
"Hah... Aku... aku..." Oland tidak bisa bilang kalau dia takut pergi ke sana. "Aku cari Putra saja, biar dia bawa kakaknya untuk nolong kalian." ucap Oland dan kembali membuka mata.
Rumah Oland dan Putra bersebelahan, jadi Oland tidak perlu repot-repot berjalan jauh. Dilihatnya Putra sedang berlari ke luar rumah membawa ponsel kakaknya lalu tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Kakaknya berwajah merah karena marah, terus meneriaki Putra dan berusaha merebut ponselnya. Oland sudah biasa melihat keributan seperti itu, hobi Putra memang menjahili kakaknya. Dia tidak akan berhenti sampai ibunya menjewer terlinganya.
"Aku Keke, di sini ada Danan, Geris, Natifa, dan anak baru! Cepet kesini!"
"Hah... Aku... aku..." Oland tidak bisa bilang kalau dia takut pergi ke sana. "Aku cari Putra saja, biar dia bawa kakaknya untuk nolong kalian." ucap Oland dan kembali membuka mata.
Rumah Oland dan Putra bersebelahan, jadi Oland tidak perlu repot-repot berjalan jauh. Dilihatnya Putra sedang berlari ke luar rumah membawa ponsel kakaknya lalu tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Kakaknya berwajah merah karena marah, terus meneriaki Putra dan berusaha merebut ponselnya. Oland sudah biasa melihat keributan seperti itu, hobi Putra memang menjahili kakaknya. Dia tidak akan berhenti sampai ibunya menjewer terlinganya.
"Foto ini akan aku kirim ke temen-temen Kakak!" teriaknya sambil berlari.
"Balikin sini! Awas kamu ya! Putraaaa!! Balikin!" Kakaknya terus mengejar.
"Putra! Danan pingsan tuh di Taman LLover," ucap Oland berusaha menarik perhatiannya. Putra tidak juga sadar keberadaan Oland sampai dia harus berteriak. "PUUUTTRRA! Danan pingsan!"
Putra dan kakaknya ikut menoleh kaget. Putra pun melirik kakaknya, "Kak... tolongin Danan dong, nanti aku hapus foto kakak." Seperti biasanya, kakaknya menurut dan langsung pergi.
Oland dan Putra tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan kakaknya.
"Enak ya kamu punya kakak kayak gitu," celetuk Oland.
Putra tersenyum jahil. "Memangnya ngapain sih Danan ke Taman LLover?"
"Bukan cuma Danan yang ke Taman LLover, tapi Keke, Geris, Natifa, sama anak baru katanya. Aku juga nggak ngerti mereka ngapain ke sana. Besok kita tanya saja di sekolah, aku males ke sana."
Putra mengangguk paham. Mereka berdua menatap langit yang sudah mulai gelap, awan-awan hitam menggeser keberadaan awan putih dan matahari sudah menghilang entah kemana, digantikan bulan dengan siluet bergambar nenek yang duduk di atas kursi goyang dan kucing di pangkuannya. Semua anak-anak selalu diceritakan kisah nenek dan kucing hitam sebelum tidur.
"Aku punya firasat buruk. Semoga mereka baik-baik saja," lirih Oland berkata.
Putra hanya tersenyum mendengarnya lalu beranjak masuk ke rumah. Dia yakin, kakaknya sudah menggendong Danan dan membawanya pulang ke rumah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan sekarang. Sesuai janjinya, Putra menghapus foto Kakaknya yang diam-diam dia ambil saat Kakaknya sedang mengupil di kamar mandi. Firasatku malah sebaliknya, ada yang menarik di Taman LLover, dan itu lebih menarik daripada menjahili kakak, pikir Putra.
(Bersambung)

Aku harap petualangan anak-anak itu gak akan selesai terlalu cepat :)
BalasHapus#penasaran
Iya nis, bakal lama selesainya karena cukup lama di update-nya :)
BalasHapus