Sabtu, 19 November 2016

Dimensi Waktu di Pohon Ajaib (1)



BAGIAN PERTAMA



Lima bulan berlalu sejak Irani pindah ke Komplek Hujan. Taman LLOVER selesai di renovasi. Kini terlihat lebih cantik dihiasi bunga dan tanaman buah. Para orang tua juga pelan-pelan melupakan mitos Nenek Sihir. Ini berkat Putra yang berhasil meyakinkan mereka kalau di Taman LLOVER tidak ada hantu dan aman untuk bermain anak-anak.

Sedangkan Danan, seminggu setelah pingsan di taman, dia menceritakan hal yang mengerikan. Namun ini rahasia dan tidak boleh diketahui para orang tua! Danan bilang di pohon paling besar di taman ada hantu nenek-nenek. Nenek itu terus mengikuti Danan hingga kondisi badannya menurun dan Danan tidak bisa banyak bergerak. Selama seminggu Danan berkomunikasi dengan Nenek itu, dia memang tidak jahat, tapi kulit keriputnya yang bernanah dan penuh luka bakar membuatnya terlihat mengerikan. Nenek itu tidak punya kekuatan sihir sama sekali, semua orang telah salah paham hanya karena anaknya menghilang memasuki dimensi waktu di pohon beringin. Orang-orang mengira dia telah merubah anaknya menjadi kucing hitam. Padahal dia sendiri tak mengerti bagaimana cara anaknya memasuki dimensi waktu. Nenek pun meninggal saat rumahnya terbakar, ruhnya tidak tenang karena dia belum menemukan anaknya.

Irani mengamati pohon beringin yang memiliki ukiran rintik hujan. Dia penasaran dengan kebenaran cerita Danan. Apa benar kalau dimensi waktu ada di pohon ini? Pikirnya.

“Kamu harusnya jauh-jauh dari pohon ini,” ucap Oland yang berdiri di belakang Irani. Di tangannya penuh snack dan cemilan. Disaat teman-teman yang lain bermain lompat tali dan petak umpet, Oland malah asik makan di sisi kolam. Sesekali dia melempar potongan roti untuk ikan koi.

“Aku sudah lihat rekaman Nenek itu. Danan nggak bohong,” jelas Natifa yang tangannya penuh bunga kembang sepatu dan kepalanya dihinggapi kupu-kupu kuning.

“Rekaman? Maksud kamu apa?” tanya Geris yang sejak tadi mengikuti Natifa.

“Ini rahasia ya! Aku bisa lihat rekaman kejadian dari benda, kayak rekaman film.”

Oland ikut berbisik, “Aku juga punya rahasia, aku bisa telepati dengan Keke.”

Irani tidak semudah itu percaya, dia penasaran dan semakin mendekati pohon beringin. “Kalau kalian bisa sehebat itu, seharusnya aku juga bisa melakukan sesuatu yang_” kata-katanya terhenti karena tiba-tiba hujan turun. Dia melihat ke langit, tapi tidak ada awan mendung. Hujan turun dari daun dan ranting pohon. Sesuatu yang lebih aneh lagi, gerakan Oland dan teman-temannya terasa sangat cepat. Sealiknya, gerakan dia melambat. Di dalam hati Irani menghitung setiap pergerakannya per detik sama dengan 60 detik di tempat teman-temannya.

Oland, Geris, dan Natifa terkejut melihat Irani di dekat pohon beringin. Tidak ada setetes pun air yang jatuh dari langit, tapi tubuh Irani basah kuyup. Mereka berlari mendekati Irani.

Sambil menunggu teman-temannya mendekat, Irani menyanyikan lagu yang sangat dia sukai. “Titik-titik hujan masih membasahi. Kala kau menyapa pelangiku. Bisikan kisah yang indah nyanyikan lah lagu merduku, merah kuning hijau dan jingga. Sentuhkan warnamu dalam gaunku.”

“Irani!!” seru Oland, Geris, dan Natifa serempak. Mereka lebih terkejut lagi ketika menyadari hujan turun di atas kepala mereka. “Kenapa hujan?” tanya Oland bingung.

“Lihat! Air hujan keluar dari daun dan ranting pohon! Ini hebat kan!” girang Irani berputar di bawah hujan. Dia masih bersenandung hingga tak sadar ukiran rintik hujan di pohon beringin ikut berputar. Ukiran itu berputar semakin cepat hingga membentuk celah lalu membesar menjadi terowongan. Geris mencoba menghentikan gerakan Irani.

“Irani, lihat itu!” Geris menunjuk ke terowongan gelap di pohon beringin.

“Dimensi waktu,” ucap Natifa memberanikan diri mendekat.

“Jangan! Nanti kita hilang seperti anaknya Nenek!” Oland mulai gemetar ketakutan.

“Kita bisa cari anaknya Nenek di sana, supaya ruh Nenek bisa tenang,” ucap Irani.

“Aku setuju! Kita bisa berpetualang di dimensi waktu! Pasti seru!” Geris bersemangat.

Oland menggeleng tidak setuju. Natifa menarik tangan Oland dan memelas, “Kamu nggak mau kan dihantui Nenek? Kita harus bantu Nenek menemukan anaknya. Ayo lah Oland, kamu mau ikut kan?” Oland tetap menggeleng dan kakinya terasa lemas.

“Kalau Oland nggak mau ikut, biarkan saja! Dia bisa kembali dan bilang pada yang lain kalau kita masuk ke dimensi waktu,” ucap Geris acuh melihat Oland yang lemas karena ketakutan.

Mereka sepakat meninggalkan Oland sendiri. Irani melangkah lebih dulu ke dalam terowongan, diikuti Natifa dan Geris di belakangnya. Oland ingin sekali mencegah mereka, tapi itu percuma saja karena mereka seperti tidak memiliki rasa takut. Sebaliknya, Oland sangat takut hingga menangis tersedu-sedu. Dia takut tak bisa melihat ketiga temannya lagi.


(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

author
Hana Sisworini
Aku penulis cerita di Taman LLOVER dan doll maker. Bisa menghubungiku melalui email tamanllover@gmail.com Selamat berpetualang dan berbelanja di Taman LLOVER!