Kamis, 16 Juni 2016

Lihatlah taman llover lebih dekat (4)



BAGIAN KEEMPAT


Suasana sekolah saat itu mendadak senyap. Natifa sedang menggambar kura-kura di buku gambarnya. Geris memutar-mutar bola basket dengan kaki kirinya di bawah meja. Sedangkan Keke tertidur dengan buku yang menutupi mukanya. Oland dan Putra memperhatikan teman-temannya, mereka menunggu waktu yang tepat untuk bertanya soal kejadian kemarin sore. Hari ini pun Danan tidak masuk, mereka jadi khawatir. 

Ibu guru akhirnya masuk ke kelas setelah terlambat sepuluh menit. Dia menuntun Irani dan mempersilahkannya memperkenalkan diri. "Halo teman-teman, namaku Irani. Aku pindah dari Bangka dan sekarang aku tinggal di Komplek Hujan. Senang bertemu kalian!"

Tak ada tanggapan dari anak-anak lain. Ibu guru pun menyuruh Irani duduk di bangku paling depan. Di sampingnya ada Natifa yang sedang menutup buku gambarnya dan mengeluarkan buku pelajaran. Natifa tidak menghiraukan Irani. Dilihatnya ke belakang, Geris memalingkan wajah ke arah jendela. Keke pun baru bangun dari tidur singkatnya lalu merentangkan tangan ke atas sambil menguap. Di belakang Keke, ada anak laki-laki yang kemarin dikejar kucing hitam.

Oland melambai pada Irani, membuat Irani tersipu malu. Setidaknya dia tenang ada anak yang masih mau berteman dengannya. Sejak kejadian kemarin sore, Irani disalahkan karena mengajak mereka main ke Taman LLover. Orang tua mereka marah pada Irani. Irani juga tak sempat membela diri, seharusnya bukan dia yang disalahkan. Dia memang mengajak Danan pergi ke Taman LLover, tapi mereka sendiri kan yang kemudian menyusul Irani.

***

"Irani, kenalin aku Oland dan ini Putra," sapa Oland saat pelajaran telah usai.

Irani tersenyum ramah sambil merapihkan buku pelajarannya. "Senang kenal kalian."

"Aku denger dari Keke, Danan pingsan di Taman LLover?" tanya Oland penasaran.

Irani mengangguk, dilihatnya Keke yang sudah menggendong tas kuningnya lalu beranjak pergi.

"Memangnya di Taman LLover ada apa sih?" anak laki-laki berkacamata itu ikut penasaran.

"Itu cuma taman biasa. Saat mereka di Taman LLover, Geris keliatan seneng, Natifa juga mendekati pohon, cuma Danan aja yang tiba-tiba pingsan. Lalu orang tua mereka marah-marah," jelasnya. Dia memperhatikan Geris dan Natifa yang berjalan ke luar kelas.

"Kita harus ngebujuk semua orang tua," celetuk Putra.

"Ngebujuk buat apa?" tanya Oland yang perasaannya mulai tak enak.

"Supaya mereka ngijinin kita main di Taman LLover!" seru Putra semangat.

"Aku nggak mau ke sana! Kamu denger sendiri kan itu cuma taman biasa!"

Irani tampak berpikir. "Ibuku bisa mendekorasi taman! Dia seorang desainer interior. Jadi kita bisa minta tolong Ibu untuk merubah Taman Llover menjadi taman yang tidak biasa. Bagaimana?"

"Ide yang bagus, Irani!" Putra melonjak senang dengan satu tangan terkepal di udara

"Huh... terserah kalian saja," ucap Oland yang pasrah. Dia tetap tidak suka dengan Taman LLover, terutama dengan kucing hitam yang tidak bisa didekorasi agar terlihat lebih manis dan jinak. Kucing hitam tetaplah kucing yang mengerikan bagi Oland.


(Bersambung)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

author
Hana Sisworini
Aku penulis cerita di Taman LLOVER dan doll maker. Bisa menghubungiku melalui email tamanllover@gmail.com Selamat berpetualang dan berbelanja di Taman LLOVER!